Thursday, December 16, 2004

[FFD 2004] Filmmaker Pemula Coba Mengangkat Realitas


Menginjak Kamis (16/12) yang merupakan hari keempat penyelenggaraan Festival Film Dokumenter (FFD) 2004 yang diselenggarakan oleh Komunitas Dokumenter Yogyakarta (KDY) di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta sudah memutar seluruh film dokumenter yang masuk dalam nominasi. Hari Kamis sendiri, panitia memutar 4 film nominasi terakhir sehingga menutup karnaval nominasi film dokumenter.
Deddy P dengan durasi 15 menit mengangkat judul “Onthel” (Paradigma Roda Tua) mengangkat penemuan sepeda dari bentuk sederhana sampai modern bahkan menjadi salah satu aikon kebudayaan yang dulunya menjadi image kaum bangsawan. “Meski semakin akrab dengan kesederhanaan, perkembangan jaman yang begitu pesat membuat sebagian kebudayaan lambat laun berkurang dan pengrajin berinisiatif membuat miniatur lengkap dengan segala keunikan setiap bagian dari sepeda onthel. Apakah jaman akan melupakan penggalan sejarah pit onthel?,” ungkapnya setelah pemutaran film nominasi dokumenter Kamis siang.

Berbeda dengan filmmaker pemula lainnya yang menangkap sebuah fenomena anak jalanan dengan berbagai alasan yang melatarbelakangi sehingga harus berada di jalan. “Ada sebuah anggapan umum bahwa pindah dan tinggal di kota besar adalah satu-satunya cara untuk maju dan berkembang. Hegemoni pendapat itu kemudian menjadikan kota seperti sependar cahaya terang yang menjadikan kaum urban berbondong-bondong memenuhi sudut-sudut kota,” tukas Sigit dengan judul karya ”Jalanan Kiri”. Dengan lama film 20 menit, ia lebih merasa gelisah ketika anak-anak dibawah umur yang terpaksa berada di jalanan dengan berbagai alasan dan dianggap sebagai komunitas kiri yang meresahkan.

Kisah dunia yang kelam juga memberikan inspirasi bagi Cenit Rory dengan mengisahkan suka-duka hidup sebagai waria yang dikemas dalam film berjudul ”Senyum Manis Menyimpan Tangis”. “Sekian lama……aku menjalani hidupku ‘sebagai waria’,” ungkapnya mengutip kalimat yang ada dalam film dokumenter yang ia garap. Cenit secara spesifik mencoba menggambarkan bagaimana sulitnya mendapatkan pengakuan atas keberadaan seseorang sebagai waria apalagi tokoh yang digambarkan tidak mau diterima oleh ayahnya karena status yang tidak jelas. “Waria itu sebenarnya bukan keinginan seseorang tapi suatu keterpaksaan yang harus dijalani dengan pahit. Keinginan untuk keluar dan hidup normal secepatnya selalu berkobar dalam tokoh waria di film saya,” tambah Cenit.

Sejalan dengan Sigit dan Cenit, Onny Kresnawan dengan film ”Goresan Anak Pemulung” mengisahkan sisi-sisi kehidupan anak-anak tak sekolah dan putus sekolah yang terpaksa bekerja karena himpitan ekonomi untuk membantu orang tuanya. “Meski keseharian mereka bergumul dengan kerasnya kerjaan demi mengais rezeki diantara busuknya kotoran, harapan masih menggema untuk menggapai kehidupan yang lebih layak, hanya saja mereka tidak banyak tahu harus berbuat apa untuk mewujudkan lambungan harap dan citanya,” terangnya.

Meski disadari hanyalah seorang anak pemulung Junaidi Sagala menulis surat untuk presiden agar memperhatikan nasib mereka karena anak Indonesia yang bernaung di negeri yang subur makmur. “Apakah “Goresan Anak Pemulung” dapat mengetuk pemimpin bangsa, kita lihat saja nanti,” ujarnya. (antok-gudegnet)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home